IMG-LOGO
Trending Now:
Tasawuf/Akhlak

Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)

Kamis 12 September 2019 19:15 WIB
Share:
Keutamaan Belajar dan Mengajarkan Ilmu Menurut KH Hasyim Asy’ari (2)
(Ilustrasi: NU Online/Romzi Ahmad)
Hadratussyekh Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Adab al-Alim wa al-Muta’allim juga membahas membahas tentang keutamaan majelis ilmu, ulama, serta tercelanya kebodohan. Seperti pada pembahasan sebelumnya, beliau banyak memperkuat argumentasi-argumentasinya dengan penyebutan hadits Nabi serta statemen para sahabat dan ulama. Salah satunya adalah sabda Nabi Muhammad ﷺ, “Tuntutlah ilmu kemudian ajarkanlah kepada manusia” (HR al-Darimi, al-Nasai, al-Baihaqi dan lainnya).
 
Dalam hadits yang lain, Nabi bersabda, “Jika kalian melihat taman indah surga maka membaurlah di sana.” Nabi Muhammad ﷺ pun ditanya, “Apa itu taman surga?” Beliau menjawab, “Halaqah/majelis dzikir (mengingat kepada Allah),” (HR Ahmad dan al-Tirmidzi).
 
Imam Atha’, salah satu pembesar Tabi’in memberikan keterangan lebih lanjut mengenai halaqah itu. Beliau menegaskan halaqah yang dimaksud oleh Nabi adalah perkumpulan yang membahas tentang halal/haram, membahas bagaimana tata cara jual beli, tata cara shalat, zakat, haji, nikah, menceraikan istri, dan lain sebagainya. 
 
Nabi Muhammad ﷺ mengingatkan agar ilmu diamalkan, beliau bersabda “tuntutlah ilmu lalu amalkanlah apa yang telah kau pelajari.” (HR Ahmad dan al-Darimi). Nabi Muhammad ﷺ juga bersabda “tuntutlah ilmu dan jadilah salah satu dari para ahlinya” (HR Ahmad dan al-Darimi). 
 
Hadlratussyekh selanjutnya menyinggung keutamaan ahli ilmu dibandingkan ahli ibadah yang tidak berilmu. Rais Akbar Nahdlatul Ulama tersebut mengutip sabda Nabi “tidaklah Allah disembah dengan suatu hal yang lebih utama dari pada mengerti permasalahan agama. Sungguh satu pakar fiqih lebih memberatkan bagi setan dari pada seribu orang yang ahli ibadah.” (HR al-Daruquthni dan al-Thabrani).
 
KH Hasyim Asy’ari selanjutnya mengutip dalil kemuliaan ulama yang disandingkan dengan derajatnya para syahid yang gugur di medan perang di jalan Allah. Beliau mengutip sabda Nabi “Goresan tinta para ulama beserta aliran darah para syuhada akan ditimbang pada hari kiamat.” (HR al-Qurthubi).
 
Dalam hadits yang lain, Nabi bersabda:
 
يشفع يوم القيامة ثلاثة الأنبياء ثم العلماء ثم الشهداء
 
“Ada tiga orang yang dapat memberikan syafa’at pertolongan kelak di hari kiamat yaitu para Nabi, para alim ulama keumdian para syuhada” (HR Ibnu Majah dan al-Qurthubi). 
 
Bahkan menurut al-Imam al-Ghazali, hadits tersebut menunjukan bahwa derajatnya para ulama di atas para syuhada. Penyebutan dalam hadits tersebut memakai redaksi “tsumaa” yang mengindikasikan berurutannya level kemuliaan, di mana para ulama disebutkan setelah para Nabi dan sebelum para syuhada.
 
Hujjatul al-Islam al-Imam al-Ghazali menegaskan:
 
فأعظم بمرتبة هي تلو النبوة وفوق الشهادة مع ما ورد في فضل الشهادة
 
“Sungguh betapa agungnya level ulama yang mengiringi derajat kanabian dan melampaui derajat syahadah (mati syahid) padahal terdapat hadits yang menjelaskan begitu agungnya keutamaan syahadah (mati syahid). (Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali, Ihya Ulum al-Din, juz.1, hal.6).
 
Dalam referensi yang lain, al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith mengatakan:
 
قلت وفي ذلك دليل على أن العلماء العاملين أفضل عند الله من الشهداء الذين قتلوا في سبيل نصر الدين. قال الحسن البصري يوزن مداد العلماء بدم الشهداء فيرجح مداد العلماء على دم الشهداء. 
 
“Aku berkata, dalam keterangan tersebut menunjukan bahwa para ulama yang mengamalkan ilmunya lebih utama di sisi Allah dibanding para syuhada yang terbunuh di jalan perjuangan agama. Al-Hasan al-Bashri berkata; kelak dibandingkan antara tinta para ulama dan darah para para syuhada, maka lebih unggul tinta para ulama atas darah para syuhada.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.87-88).
 
Selanjutnya KH Hasyim Asy’ari mengutip sebuah riwayat bahwa para ulama kelak akan berada di atas mimbar singgasana yang terbuat dari cahaya. Salah seorang ulama terkemuka dari kalangan Syafi’iyyah, al-Qadli Husain menyatakan dalam permulaan kitab Ta’liqnya, bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Barangsiapa yang mencintai ilmu dan para ulama maka tak akan ada kesalahan yang akan ditulis selama masa hidupnya.” 
 
Beliau al-Qadli Husain juga meriwayatkan sabda Nabi Muhammad ﷺ yang lain, “Barangsiapa yang shalat di belakang seorang ulama maka ia bagaikan sholat di belakang seorang nabi dan barangsiapa yang sholat di belakang seorang nabi, maka dosa yang telah ia perbuat akan diampuni.” 
 
Dalam hadits yang diriwayatkan oleh sahabat Abi Dzar dinyatakan bahwa mendatangi majelis dzikir (mengingat Allah termasuk dengan belajar ilmu) lebih baik dari pada melakukan shalat sebanyak seribu rakaat dan bertakziah menyaksikan seribu jenazah, serta lebih baik dari pada menjenguk seribu orang sakit.
 
Khalifah Umar bin al-Khattab berkata “sungguh apabila ada seorang lelaki yang keluar dari tempat tinggalnya dipenuhi dengan dosa layaknya gunung Tihamah, kemudian ia mendengarkan untaian kalam para ulama dan ia merasa takut hingga akhirnya ia bertaubat dari dosa-dosa yang telah ia lakukan, maka sungguh ia telah kembali ke rumahnya sedang ia sudah tak mempunyai dosa apapun, maka janganlah kalian berpisah dari majelisnya para ulama. Sesungguhnya Allah ﷻ tidaklah menjadikan tanah di muka bumi yang lebih mulia dari Majelis para ulama.”
 
Seorang ulama besar dari mazhab Maliki, Syekh al-Syarmasahi menyatakan dalam permulaan kitab Nadhmu al-Durar bahwa Nabi Muhammad ﷺ bersabda “barangsiapa yang mengagungkan para ulama maka sungguh ia telah mengagungkan Allah ﷻ dan barangsiapa meremehkan para ulama, maka sungguh ia telah meremehkan Allah ﷻ dan Rasul-Nya.”
 
KH Hasyim Asy’ari selanjutnya menjelaskan perihal tercelanya kebodohan, di antaranya dengan mengutip sabda Sahabat Ali bin Abi Thalib karramallahu wajhahu sebagai berikut:
 
كفى بالعلم شرفا أن يدعيه من لا يحسنه وكفى بالجهل ذما أن يتبرأ منه من هو فيه
 
“Cukuplah menjadi bukti kemuliaan ilmu meskipun orang yang tidak berilmu mengaku-ngaku berilmu, dan cukuplah menjadi bukti tercelanya kebodohan meskipun orang yang berada dalam kebodohan merasa lepas darinya.”
 
Dalam tema yang senada tentang rendahnya kebodohan, menantu Nabi tersebut menyenandungkan sebuah syair:
 
كفى شرفا بالعلم دعواه جاهل * ويفرح أن أمسى إلى العلم ينسب
 
“Cukuplah menjadi bukti kemuliaan ilmu betapa orang bodoh mengaku-ngaku berilmu, ia senang dinisbatkan kepada ilmu.”
 
ويكفي خمولا بالجهالة أنني * أراع متى أنسب إليه وأغضب
 
“Cukuplah menjadi bukti hinanya kebodohan betapa aku takut dan marah ketika ia dinisbatkan kepadaku.”
 
Dalam keterangan lain yang dikutip al-Imam al-Ghazali, Sahabat Ali menyenandungkan syair yang sangat indah:
 
ما الفخر إلا لأهل العلم إنهم ... على الهدى لمن استهدى أدلاء
 
“Tiada kebanggan kecuali bagi orang yang berilmu, sesungguhnya mereka berada pada petunjuk (Allah), mereka menjadi petunjuk bagi orang-orang yang meminta petunjuk.”
 
وقدر كل امرىء ما كان يحسنه ... والجاهلون لأهل العلم أعداء
 
“Derajat setiap orang berada pada kepakarannya dalam sebuah hal. Orang-orang bodoh adalah musuh bagi para ahli ilmu.”
 
ففز بعلم تعش حيا به أبدا ... الناس موتى وأهل العلم أحياء
 
“Gapailah ilmu, maka engkau selamanya akan hidup. Para manusia mati sementara ahli ilmu hidup” (Syekh Abu Hamid Muhammad bin Muhammad al-Ghazali mengutip Sahabat Ali, Ihya’ Ulum al-Din, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah, juz 2 hal. 18-19 ).
 
KH. Hasyim Asy’ari juga menambahkan riwayat dari sahabat Ibnu Zubair beliau berkata bahwa sahabat Abu bakr pernah mengirimkan surat kepadaku saat aku berada di Irak “wahai anakku kau harus selalu dalam naungan ilmu karena jika engkau dalam keadaan fakir maka ilmu akan menjadi harta bagimu dan jika engkau dalam keadaan kaya maka ilmu akan menjadi penghias bagimu.” 
 
Syekh Wahab bin Munabbih berkata “ada sebuah kemuliaan yang muncul dari ilmu, walaupun orang yang berilmu adalah bawahan, terdapat nilai keluhuran walaupun orang yang berilmu adalah orang yang direndahkan, terdapat sisi kedekatan (di sisi Allah) walaupun orang yang berilmu dalam tempat yang jauh, terdapat nilai kekayaan walaupun orang yang berilmu merupakan orang fakir. Terdapat kewibawaan walaupun orang yang berilmu dihinakan. 
 
Tentang keutamaan ilmu, Syekh Wahab bin Munabbih menyenandungkan sebuah syair:
 
“Ilmu adalah hal yang dapat mengantarkan suatu kaum berada dalam puncak kemuliaan dan orang yang berilmu akan terhindar dari kerusakan.”
 
“Wahai orang-orang yang berilmu, berhati-hatilah kalian, jangan kalian kotori ilmu dengan sesuatu yang merusak. Sungguh tak ada yang dapat menggantikan posisi ilmu.”
 
“Ilmu dapat membuat sebuah rumah berdiri tegak walau tak bertiang, sedang kebodohan dapat menghancurkan rumah yang begitu megah dan mulia.”
 
Abu Muslim al-Khawlani Ra. Berkata “para ulama di bumi laksana bintang di langit, ketika bintang itu muncul maka manusia mendapatkan petunjuk, dan ketika bintang itu meredup, maka manusia dalam kebingungan.” 
 
Dalam gubahan syairnya, Abu Muslim berkata:
 
“Berjalanlah sesuai jalurnya ilmu, dan perlihatkanlah ilmu kepada orang-orang yang mempunyai kepahaman.”
 
“Di dalam ilmu terdapat cahaya yang menerangi hati dari kebutaan, dan terdapat nilai bela agama yang kokoh.”
 
“Berbaurlah dengan para perawi ilmu, bersahabatlah dengan yang terbaik dari mereka. Maka bersahabat dengan mereka adalah perhiasan, membaur dengan mereka adalah keuntungan besar.”
 
“Maka janganlah engkau palingkan penglihatanmu dari mereka, karena merekalah bintang-bintang yang menjadi petunjuk, andai hilang satu bintang maka muncullah bintang yang lain.”
 
“Sungguh demi Allah andai tiada ilmu, niscaya tidak tampak sebuah petunjuk, dan tiada tampak pencerahan bagi kita dari perkara-perkara yang samar.”
 
Sahabat Ka’ab bin al-Akhbar berkata “andai saja tampak pahala majelisnya para ulama, maka orang-orang akan saling membunuh untuk memperebutkannya, hingga setiap penguasa rela meninggalkan kekuasaannya, dan pemilik pasar rela meninggalkan pasarnya.”
 
Sebagai keterangan tambahan, al-Habib Zain menegaskan bahwa hendaknya setiap muslim mengambil bagian dari warisan para Nabi. Sesungguhnya mereka tidak mewariskan harta atau tahta, namun mewariskan ilmu. Ulama besar dari Madinah tersebut menegaskan bahwa agama Islam dibangun atas dasar ilmu. Beliau mengatakan:
 
اعلم أن الدين الإسلامي قائم على أساس العلم والمعرفة فلا ينبغي للمسلم أن يكون بعيدا عن نور العلم بل لابد أن يقتبس من الميراث النبوي فإن العلماء ورثة الأنبياء 
 
“Ketahuilah bahwa agama Islam berdiri atas dasar ilmu dan pengetahuan, maka tidak sepantasnya bagi seorang muslim jauh dari cahaya ilmu. Bahkan wajib baginya mengambil warisan para Nabi, sesungguhnya para ulama adalah pewaris para Nabi.” (al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith, al-Manhaj al-Sawi, hal.83).
 
 
Ustadz M. Mubasysyarum Bih, Dewan Pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran, Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat.
 
 
Share:

Baca Juga

Selasa 10 September 2019 10:30 WIB
Empat Hal yang Meracuni Hati
Empat Hal yang Meracuni Hati
Butuh ketekunan untuk menahan sejumlah hal untuk menjaga hati tetap sehat secara rohani. (Ilustrasi: harvard.edu)
Rasulullah ﷺ pernah menyatakan bahwa dalam tubuh kita ini ada segumpal daging. Jika segumpal daging itu baik maka baiklah seluruh tubuh kita. Namun jika segumpal daging itu rusak maka rusak pula seluruh tubuh kita. Segumpal daging dimaksud adalah hati. Demikian seperti yang diriwayatkan al-Bukhari. 
 
Berdasarkan hadits di atas, kita tahu bahwa baik-buruknya perilaku dan amal perbuatan kita sangat ditentukan oleh baik dan buruknya kondisi hati. Karena itu, kita dituntut untuk memperbaiki dan merawatnya. Untuk merawat hati agar tetap hidup, jernih, dan tidak rusak, dan tidak teracuni, para ulama telah memberikan beberapa rambu kepada kita. Di antaranya dengan menghindari empat hal berikut ini. 
 
Pertama, banyak bicara. Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah ﷺ yang menyatakan, “Siapa saja yang banyak bicaranya maka banyak kesalahannya. Siapa yang banyak kesalahannya, maka sedikit wara’-nya. Siapa saja yang sedikit wara-nya, maka mati hatinya. Siapa saja yang mati hatinya, maka Allah haramkan surga untuknya.” 
 
Nabi Isa ‘alaihissalam pernah berpesan, “Sedikitlah bicara kecuali dengan berdzikir. Sebab, banyak bicara hanya akan mengeraskan hati.” 
 
Namun tentunya, maksud banyak bicara di sini adalah bicara yang tanpa makna, sedangkan bicara yang memberi manfaat dan hikmah justru sangat dianjurkan. Rasulullah ﷺ sendiri menganjurkan agar selalu bicara yang baik, bahkan anjuran itu dikaitkan dengan keimanan, “Siapa saja yang beriman kepada Allah dan hari akhir, maka katakanlah yang baik-baik atau diam,” (HR Malik). (Lihat: Ibnu Abi ‘Ashim, al-Zuhd, Daru al-Rayyan: Kairo], 1408 H, hal. 38). 
 
Kedua, banyak makan, terlebih makanan yang haram. Para ulama menyatakan, di antara perkara yang dibenci adalah penuhnya perut dengan perkara halal. Ini artinya, diisi yang halal saja sudah dibenci, apalagi diisi dengan haram. 
 
Adapun rahasia larangan memenuhi perut, salah satunya yang dipesankan oleh Luqman al-Hakim kepada putranya, “Wahai anakku, jika perutmu penuh, maka pikiranmu akan tidur, hikmah jadi tertutup, dan anggota tubuh akan lemah dibawa ibadah.” 
 
Seorang ahli hikmah juga menuturkan, “Siapa saja yang banyak makannya, pasti banyak minumnya. Siapa saja yang banyak minumnya, pasti banyak tidurnya. Siapa saja yang banyak tidurnya, pasti banyak dagingnya (gemuk). Siapa saja yang banyak dagingnya, pasti keras hatinya. Siapa saja yang keras hatinya, maka ia akan tenggelam dalam kubangan dosa.” 
 
Ahli hikmah yang lain menyatakan, “Siapa yang banyak kenyang di dunia, maka ia akan banyak lapar di akhirat.” 
 
Karenanya, berbicara soal perut, Rasulullah ﷺ telah mengingatkan kepada kita bahwa perut bukanlah wadah yang siap diisi apa saja sesuai keinginan kita. Sekalipun ia diisi, tidak boleh berlebihan sehingga melebihi batas kemampuannya, sebagaimana dalam hadits, “Keturunan Adam tidak dianggap menjadikan perutnya sebagai wadah yang buruk jika memenuhinya dengan beberapa suap yang dapat menegakkan tubuhnya. Karena itu, apa yang dia harus lakukan adalah sepertiga perutnya untuk makanan, sepertiga untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk nafas,” (HR Ahmad). 
 
Ketiga, banyak bergaul dengan orang-orang buruk. Dikecualikan jika keyakinan dan akhlak kita sudah kuat, dan tujuan kita bergaul adalah memperbaiki akhlak mereka. Namun, sekiranya kita masih lemah, tinggalkanlah pergaulan dengan mereka. Sebab biasanya, bukan mereka yang berubah baik karena bergaul dengan kita, tetapi justru kita yang tergerus mereka. 
 
Sebaiknya, jika keyakinan dan karakter kita masih lemah, bersahabatlah dengan orang-orang saleh, terlebih persahabatan itu akan berlanjut hingga hari akhir. Salah satu hadits Rasulullah menyatakan, “Sesungguhkan engkau akan dikumpulkan bersama orang-orang yang engkau cintai.” Artinya, jika seseorang cinta kepada orang saleh, maka kelak ia akan dibangkitkan bersama orang-orang saleh. Demikian pula sebaliknya. 
 
Luqman al-Hakim pernah berpesan kepada putranya, “Bergaullah dengan orang-orang saleh hamba Allah. Sebab, dari kebaikan-kebaikan mereka, engkau akan mendapatkan kebaikan. Boleh jadi, di akhir pergaulan dengan mereka, rahmat akan turun. Dan engkau mendapat rahmat itu bersama mereka. Wahai anakku, janganlah engkau bergaul dengan orang-orang buruk. Sebab, dengan bergaul dengan mereka, engkau tidak akan mendapat kebaikan. Boleh jadi di akhir pergaulan dengan mereka, siksaan turun kepada mereka. Dan engkau tertimpa siksaan itu bersama mereka.” (Ahmad ibn Hanbal, al-Zuhd, (Darul Kutub al-‘Ilmiyyah: Beirut], 1999, hal. 87). 
 
Dari bergaul dengan orang-orang saleh, diharapkan kita pun menjadi orang saleh. Sebab, orang saleh yang dijanjikan Allah akan beruntung, “Aku berjanji kepada hamba-hamba-Ku yang saleh dengan sesuatu yang belum pernah terlihat mata, belum pernah terdengar oleh telinga mana pun, dan belum pernah terbesit dalam hati siapa pun.” Demikian janji Allah kepada orang-orang saleh dalam salah satu hadits qudsi. 
 
Menjauhi orang-orang buruk dan mendekati orang-orang saleh ini tak lain demi menjaga hati kita agar tidak keruh dan terkotori. 
 
Keempat, banyak memandang. Ketahuilah bahwa pangkal segala keburukan adalah banyak memandang. Kendati tidak seluruhnya, namun umumnya berbagai keburukan dan kejahatan, seperti perzinaan, perkosaan, pencurian, pembunuhan, dan sebagainya, baik secara langsung maupun tidak, dimulai dari pandangan. Tentu saja pandangan-pandangan yang buruk, terlebih di zaman modern seperti sekarang ini dimana segala informasi dan gambar apa saja mudah diakses. Pandangan-pandangan buruk itulah yang kemudian bersarang dalam hati dan mengotorinya. Sedangkan jika hati sudah kotor, maka yang timbul adalah kemalasan, kekikiran, niatan-niatan jahat, kesombongan, sikap keras menerima nasihat, dan jauh dari kebaikan. 
 
Mengingat pentingnya menjaga atau menundukkan pandangan ini, maka Allah memerintahkannya langsung dalam Al-Quran, sebagaimana ayat berikut, “Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandanganya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat',” (QS al-Nur [24]: 30). 
 
Bahkan perintah ini tidak hanya ditujukan kepada kaum laki-laki, tetapi juga kepada kaum perempuan, “Katakanlah kepada wanita yang beriman, ‘Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan kemaluannya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya’,” (QS al-Nur [24]: 31).
 
Walau konteks ayat di atas adalah menjaga pandangan dari aurat, tetapi selayaknya diterapkan terhadap hal-hal negatif yang dapat melahirkan rasa iri, dengki, panas hati, mengundang syahwat, dan seterusnya. 
 
Demikian empat hal yang dapat meracuni hati. Mudah-mudahan kita termasuk orang yang mampu menghindarinya dan termasuk orang yang mampu menata hati menjadi lebih jernih. Wallahu a’lam
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi; Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat. 
 
Sabtu 7 September 2019 5:0 WIB
Arti Hijrah Menurut Syekh Ibnu Ajibah
Arti Hijrah Menurut Syekh Ibnu Ajibah
Hijrah sebagai perintah Al-Qur’an mengandung keutamaan luar biasa karena menuntut pengorbanan fisik, harta, dan mental sekaligus sebagaimana ibadah haji
Kata hijrah belakangan ini menjadi populer. Hijrah atau migrasi dalam arti fisik pernah menjadi unsur penting dalam keberislaman seseorang. Hijrah menandai awal dari kebangkitan Islam dalam berkontribusi bagi kemanusiaan.
 
Hijrah atau migrasi di zaman Rasulullah menjadi perintah wajib dari Kota Makkah, sebuah daerah “mati” yang sulit diharapkan bagi persemaian nilai-nilai Islam yang membawa rahmat semesta ke Kota Madinah, sebuah daerah harapan dan terbuka.

Hijrah sebagai perintah Al-Qur’an mengandung keutamaan luar biasa karena menuntut pengorbanan fisik, harta, dan mental sekaligus sebagaimana ibadah haji. Namun demikian, Rasulullah mengingatkan sahabatnya agar tidak mencederai hijrah sebagai ibadah mulia itu dengan niat atau kepentingan lain.

Ketulusan niat ini diingatkan oleh Rasulullah. Perihal ketulusan niat ini kemudian diulas oleh Syekh Ibnu Athaillah dalam Al-Hikam berkut ini:
 
وانظر إلى قوله صلى الله عليه وسلم فمن كانت هجرته إلى الله ورسوله فهجرته إلى الله ورسوله ومن كانت هجرته إلى دنيا يصيبها أو امرأة يتزوجها فهجرته إلى ما هاجر إليه فافهم قوله عليه الصلاة والسلام وتأمل هذا الأمر إن كنت ذا فهم

Artinya, “Perhatikanlah sabda Rasulullah SAW, ‘Siapa saja yang berhijrah kepada Allah dan rasul-Nya, maka hijrahnya kepada Allah dan rasul-Nya. Tetapi siapa yang berhijrah kepada dunia yang akan ditemuinya, atau kepada perempuan yang akan dikawininya, maka hijrahnya kepada sasaran hijrahnya.’ Pahamilah sabda Rasulullah SAW ini. Renungkan perihal ini bila kau termasuk orang yang memiliki daya paham.”

Syekh Ibnu Ajibah RA lebih jauh mengulas pandangan Syekh Ibnu Athaillah. Menurutnya, hijrah merupakan migrasi tingkat tinggi, yaitu migrasi spiritual atau migrasi kerohanian. Ia menyebut tiga jenis hijrah atau migrasi spiritual tersebut. 
 
قلت الهجرة هي الانتقال من وطن إلى وطن آخر بحيث يهجر الوطن الذي خرج منه ويسكن الوطن الذي انتقل إليه وهي هنا من ثلاثة أمور من وطن المعصية إلى وطن الطاعة ومن وطن الغفلة إلى وطن اليقظة ومن وطن عالم الأشباح إلى وطن عالم الأرواح أو تقول من وطن الملك إلى وطن الملكوت أو من وطن الحس إلى وطن المعنى أو من وطن علم اليقين إلى وطن عين اليقين أو حق اليقين

Artinya, “Buat saya, hijrah itu migrasi dari satu ke lain daerah di mana seseorang meninggalkan tanah asalnya dan kemudian mendiami tanah tujuan. Hijrah atau migrasi ini terdiri atas tiga jenis, yaitu migrasi dari lapangan maksiat ke lapangan taat, dari lalai ke sadar, dan dari alam raga ke alam rohani. Atau dapat dikatakan migrasi dari alam malak ke alam malakut, dari lahiriah fisik ke makna, dan dari ilmul yakin ke ainul yakin atau haqqul yakin,” (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz I, halaman 73-74).

Menurut Syekh Ibnu Ajibah, orang yang berhijrah dari tiga tempat asal tersebut ke tiga tempat tujuan dengan maksud mengharapkan ridha Allah dan rasul-Nya atau dengan maksud makrifatullah dan rasul-Nya, maka aktivitas hijrah itu akan mengantarkannya pada Allah dan rasul-Nya sesuai maksud dan tekadnya.

Adapun orang yang berhijrah menuju hawa nafsunya, maka maksud dan upayanya akan sia-sia. Akhir dari hijrahnya adalah hawa nafsu itu sendiri sebagai tempat berlabuh sehingga aktivitas hijrahnya itu menambah sebab celaka baginya.

Syekh Ibnu Ajibah menjelaskan bahwa hijrah merupakan persoalan keikhlasan niat. Hanya dengan keikhlasan itu, hijrah memiliki makna bagi seseorang sehingga seseorang dapat mengecap makrifatullah dan ridha-Nya.

Hijrah dalam pengertian hadits Rasulullah SAW yang dijelaskan oleh Syekh Ibnu Athaillah dan Syekh Ibnu Ajibah menekankan ketulusan niat, jauh dari sekadar perubahan lahiriah, yaitu cara berpakaian, cara berpenampilan, dan perilaku berlebihan yang serba formal dalam beragama yang pada giliran tertentu perilaku ekstrem seperti mengenakan pakaian yang dianggap islami, menggunakan bahasa yang dinilai islami, meninggalkan profesi yang dianggap tidak islami seperti karyawan bank, aktor, atau musisi, atau mengampanyekan ideologi negara yang dianggap islami.

Syekh Ibnu Ajibah–mengutip Syekh Yazidi–menawarkan cara untuk menguji ketulusan hijrah seseorang. Untuk menguji apakah hijrah seseorang berjalan di tempat, yaitu hawa nafsu duniawi atau benar-benar hijrah kepada Allah, ia menganjurkan seseorang untuk menghadapkan semua hawa nafsu duniawinya di depannya. Jika ia masih menginginkannya, maka niat hijrahnya masih problematis.

“Allah itu cemburuan. Ia tidak senang kalau Dia sebagai tujuan hijrah disusupi hawa nafsu dan kepentingan lain di luar diri-Nya. Orang yang masih menyisakan selain Allah di dalam hatinya tidak akan pernah sampai kepada-Nya,” (Syekh Ibnu Ajibah, Iqazhul Himam, [Beirut, Darul Fikr: tanpa tahun], juz I, halaman 74).

Hijrah fisik dari Makkah ke Madinah tidak ada lagi sebagaimana sabda Rasulullah SAW karena pergeseran sistem nilai dan perubahan sosial di Kota Makkah yang tidak ada bedanya lagi dengan Kota Madinah. Tetapi hijrah dalam pengertian migrasi spiritual yang berbentuk penataan hati dan niat tetap diperintahkan dalam Islam. Wallahu a‘lam. (Alhafiz Kurniawan)
 
Sabtu 31 Agustus 2019 12:15 WIB
Pola dan Cara Makan Rasulullah (3)
Pola dan Cara Makan Rasulullah (3)
Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja.
Pada tulisan sebelumnya telah disampaikan sembilanbelas pola dan cara makan Rasulullah ﷺ Di antaranya tak mencela makanan, makan dengan tangan kanan, membaca basmalah sebelum makan, makan dengan tiga jari, tidak duduk bersandar, dan sebagainya. Kali ini akan dipaparkan sejumlah pola dan cara makan Rasulullah ﷺ lainnya.
Kedua puluh, Rasulullah ﷺ mengajarkan agar kita tidak mengambil napas atau mengeluarkannya dalam gelas minum, sebagaimana dalam hadits, “Jika salah seorang kalian minum, maka janganlah bernapas di dalam gelas. Namun, jauhkanlah gelas itu dari mulutnya,” (HR Ibnu Majah). 
 
Ibnu ‘Abbâs meriwayatkan bahwa Nabi ﷺ melarang mengambil atau mengeluarkan napas dalam gelas minum (HR al-Tirmidzi). Dalam riwayat selanjutnya, Ibnu Abbas menyebutkan bahwa Nabi ﷺ juga melarang mengeluarkan napas pada makanan dan minuman kecuali ada kebutuhan (HR Ahmad dan al-Thabrani). 
 
Kemudian jika minum dengan satu napas tidak puas, lakukan sampai tiga kali, selain cara itu lebih mampu menghapus rasa haus. Anas ibn Malik meriwayatkan bahwa di saat minum, Rasulullah ﷺ mengambil napas sampai tiga kali. Beliau juga bersabda, “Cara ini lebih baik dan lebih mampu menghilangkan rasa haus,” (HR Ahmad). 
 
Ibnu al-Qayyim berkomentar, maksud bernapas saat minum adalah memisahkan gelas dari mulut lalu mengambil napas di luar gelas. Lalu kembali menempelkan gelas pada mulut. 
 
Hal itu juga pernah ditanyakan oleh seorang pria, “Wahai Rasul, aku tidak merasa puas minum dengan satu napas.” Beliau menjawab, “Pisahkanlah gelas air minummu dari mulut, lalu ambillah napas,” (HR al-Baihaqi). 
 
Kedua puluh satu, makan dan minumlah dengan tidak berlebihan (HR Ibnu Majah). Hal ini juga sudah diperingatkan dalam Al-Qur’an, Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan, (QS al-A’raf [7]:31). 
 
Kedua puluh dua, melumat sisa-sia makanan yang masih menempel pada jari-jari. Hal ini diriwayatkan oleh Anas. Riwayat ini menyebutkan bahwa bila makan sesuatu, Rasulullah ﷺ selalu melumat ketiga jarinya (HR al-Tirmidzi).
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Ketika salah seorang dari kalian makan, maka lumatlah (semua) jari-jarinya. Sebab dia tidak tahu di jari manakah keberkahan itu berada,” (HR Muslim). 
 
Dijelaskan oleh Ibnu Hajar, keberkahan itu tidak diketahui di jari yang mana ia berada. Karena itu, hendaknya seseorang melumat seluruh jarinya secara berurutan. Ketiga jarinya dilumat sampai tiga kali (jika makannya dengan tiga jari). Dimulai dari jari tengah, sebab ia paling panjang jadi mungkin paling kotor dan paling banyak makanan yang menempel. Setelah itu, jari telunjuk, lalu ibu jari. Dan itu bukan perbuatan yang kotor, sebagaimana anggapan sebagian orang (lihat: Asyraf al-Wasa’il, h. 203). 
 
Kedua puluh tiga, jika dibawakan makanan oleh seseorang atau mungkin oleh pelayan, hendaknya kita menerima makanan itu dengan senang hati dan menikmatinya. Jika perlu ajak pula ia memakannya. Kendati ia tidak mau duduk bersama kita, ambillah satu atau dua suap makanan darinya sebagai penghormatan, sebagaimana yang disampaikan Rasulullah ﷺ, “Jika pelayanmu datang membawa makanan maka terima dan nikmatilah. Duduklah engkau bersamanya. Jika engkau tidak duduk bersamanya, maka ambillah satu atau dua suap darinya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh empat, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita untuk selalu berbagi makanan dengan siapa saja, sebagaimana sabdanya, “Jika kalian memasak dalam sebuah wajan, maka perbanyaklah airnya agar tetangga kalian dapat turut menikmatinya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh lima, hendaknya kita menghabiskan makanan yang sudah dalam piring kita. Anas meriwayatkan bahwa Rasulullah ﷺ pernah terkejut karena al-tsufl. Maksud dari al-tsufl adalah makanan yang tersisa (HR Ahmad dan al-Hakim). 
 
Kedua puluh enam, Rasulullah ﷺ mengajarkan bilamana makanan kita terkena lalat, maka celupkanlah seluruh lalat itu, “Ketika ada lalat masuk ke dalam minuman kalian, maka celupkanlah seluruh tubuh lalat itu lalu angkat kembali. Sebab, dalam salah satu sayapnya ada penyakit, sedangkan pada sayap yang lain ada penawarnya,” (HR al-Bukhari). 
 
Kedua puluh tujuh, Rasulullah ﷺ mengajarkan kepada kita agar menghindari makanan-makanan berbau, seperti bawang, kecuali setelah dimasak sempurna sehingga hilang baunya. “Siapa yang makan bawang merah atau bawang putih, hendaklah dia menjauhi kami, menjauhi masjid kami, dan tetap berada di rumahnya,” (HR al-Bukhari). 
 
Dalam riwayat lain, beliau bersabda, “Siapa yang makan sayuran ini, yakni bawang merah, bawang putih, dan bawang bakung, hendaklah dia tidak mendekati masjid kami. Sebab para malaikat terganggu seperti halnya terganggunya keturunan Adam,” (HR Muslim). 
 
Dalam riwayat berikutnya, beliau bersabda, “Siapa yang makan keduanya, maka sempurnakanlah memasaknya.” (HR Abu Dawud). 
 
Selain masjid, juga tentu tempat-tempat umum atau keramaian lainnya, seperti pasar, tempat resepsi, dan sebagainya. 
 
Demikian pula semua makanan yang beraroma tidak sedap dan mengganggu orang banyak dapat diperlakukan seperti bawang merah dan bawang putih. Contohnya jengkol dan petai (lihat: Abdul Basith Muhammad al-Sayyid, al-I’jâz al-‘Ilmi fî al-Tasyrî‘ al-Islâmî, [Darul Kutub: Beirut], hal. 353). Wallahu‘lam ‘alam
 
Bersambung....
 
 
Ustadz M. Tatam Wijaya, Alumni PP Raudhatul Hafizhiyyah Sukaraja-Sukabumi, Pengasuh Majelis Taklim “Syubbanul Muttaqin” Sukanagara-Cianjur, Jawa Barat.